jump to navigation

Albert Situmorang Mei 2, 2008

Posted by impola in Albert Situmorang.
Tags: , , , ,
1 comment so far

Wartawan ”Pembaruan” Wafat

Nama: Albert Situmorang
Lahir: Tapanuli Utara 6 Januari 1951
Meninggal: Jakarta, 18 Juli 2004
Profesi: Wartawan
Isteri: T boru Simatupang
Anak: Empat orang, Bona Tua Chris Situmorang, Febby Yanti Situmorang. John Situmorang, dan Ricky Martin Situmorang
Pekerjaan: Wartawan Sinar Harapan dan Suara Pembaruan 1975-2004, Wartawan Sinar Pagi 1972
Organisasi: Ketua Departemen Hankam PWI Pusat

Alamat: Jalan Sunter Jaya 4A Nomor 32 RT 011 RW 02, Jakarta Utara

Dunia kewartawanan Indonesia kembali kehilangan salah seorang putra terbaiknya, Albert Situmorang (53 tahun), yang tutup usia, Minggu 18Juli 2004 siang. Jenazah disemayamkan di rumah duka, Jalan Sunter Jaya 4A Nomor 32 RT 011 RW 02, Jakarta Utara. Jenazah dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur Selasa 20 Juli 2004 petang.

Meninggalnya wartawan Suara Pembaruan ini amat mengejutkan. Sehari sebelumnya, Sabtu, dia masih ke kantor dan bercakap-cakap dengan beberapa rekannya.

Salah seorang keluarganya, Yuliantino Situmorang, mengemukakan, almarhum, yang biasanya dipanggil Bang Albert, sepulang dari gereja bersiap-siap untuk menghadiri konferensi cabang PWI Jaya. Tiba-tiba dia terjatuh di rumah dan tidak sadarkan diri.

“Dia sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi dalam perjalanan beliau menghembuskan napas terakhir,” kata Yuliantino. Menurut Yuliantino, berdasarkan hasil diagnosa dokter di rumah sakit, almarhum terkena serangan jantung.

Albert meninggalkan seorang istri, T boru Simatupang dan empat anak, yakni Bona Tua Chris Situmorang, Febby Yanti Situmorang. John Situmorang, dan Ricky Martin Situmorang.

Pria kelahiran Tapanuli Utara 6 Januari 1951 itu, terkenal dengan keramahannya. Dia mengawali karier jurnalistik sebagai wartawan Harian Sinar Pagi pada 1972.

Tiga tahun kemudian, dia magang di harian sore Sinar Harapan. Sekitar tiga tahun kemudian dia diangkat sebagai wartawan Sinar Harapan dan dilanjutkan ke Harian Umum Suara Pembaruan.

Sebagian besar dari masa tugasnya sebagai wartawan adalah meliput kegiatan pertahanan dan keamanan (hankam). Oleh karena itulah, Albert dikenal luas di kalangan pimpinan Kepolisian dan TNI.

Dia juga aktif sebagai pengurus Persatuan Wartawan Indonesia. (PWI) dan menjabat sebagai Ketua Departemen Hankam PWI Pusat. Sebelumnya dia lama aktif sebagai pengurus di PWI Jaya.

Penuh Fakta

Di kalangan rekan-rekannya, terutama di Suara Pembaruan, dia dikenal sebagai wartawan yang ulet dan pelobi andalan. Karya jurnalistiknya mengalir dalam bahasa yang tegas, padat, dan penuh fakta. Dia selalu membawa informasi terbaru, hasil olahan dari berbagai narasumber, yang kemudian menjadi bahan berita untuk dikembangkan.

Hasil melobi itu tentu akurat dan layak dikembangkan sebagai berita karena diperoleh dari para pejabat tinggi sipil dan militer. Dia tidak pernah merasa lelah atau jenuh mengikuti pertemuan dengan berbagai pihak, karena dari pertemuan itulah dia menimba banyak informasi.

Bidang budaya dan sosial juga dikuasainya. Dia lama meliput dunia hiburan terutama seputar film dan musik. Oleh karena itu, banyak artis film, penyanyi, pemusik, pengusaha rekaman, produser film, sampai pengelola pertunjukan mengenal Albert secara dekat. Berkat karya jurnalistiknya sejumlah artis menjadi bintang terkenal.

Berbagai kalangan menyampaikan ucapan belasungkawa kepada keluarga almarhum. Di antaranya, tampak karangan bunga di rumah duka dari Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kapuspen TNI Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Kapolda Metro Jaya Irjen Makbul Padmanegara, dan Ketua Umum KONI Pusat Jenderal (Purn) Agum Gumelar.

Tampak melayat di rumah duka, antara lain, Ketua Umum PWI Pusat Tarman Azzam, Ketua PWI Jaya Kamsul Hassan, dan anggota DPR Panda Nababan.

Augustin Sibarani, pelukis lukisan Sisingamangaraja untuk uang kertas rupiah Mei 1, 2008

Posted by impola in Augustin Sibarani.
Tags: , , , , , ,
3 comments

Orang Besar di Dunia Karikatur

Nama: Augustin Sibarani
Lahir: 25 Agustus 1925
Agama: Kristen
Isteri: Saribar L. Tobing
Ayah: Jozua Sibarani
Ibu: Martha Hasibuan

Buku:
- Si Kasmin Pergi ke Kota
- Musik si Beber
- Rumah si Bolang.

Sibarani melukis siapa saja, dari Soeharto sampai Osama bin Laden, dengan pendekatan realis maupun karikatural. Dia seorang karikaturis yang disebut – Benedict ROG Anderson, ahli Indonesia asal Universitas Cornell, Amerika, sebagai yang terbesar di negeri ini.

Beberapa bulan lalu, satu hari di bulan April 2001, dia tampak penuh semangat bicara kepada siapa saja tentang rencana penerbitan buku karikaturnya yang pertama, setelah bertahun-tahun tak mempublikasikan buku. Waktu itu dia bahkan membawa beberapa lembar coretannya, dibuat dengan kombinasi drawing pen dan cat air.

Satu di antaranya bergambar empat politisi kelas Indonesia: Megawati Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid, Akbar Tanjung, dan Amin Rais tengah mengelilingi meja bermain kartu. Ia mencorat-coret permukaan karikaturnya dengan tip-ex, terutama menghapus bagian-bagian teks yang terasa terlampau verbal, sebab media sekarang tak menyukai gaya semacam itu.

Karikatur tersebut naik cetak di majalah PANTAU dan beredar, bagaikan kembalinya si anak hilang. Republika, sebuah harian nasional, bahkan mereproduksi karikatur itu di halaman satu dan membuatnya jengkel sebab merasa tak dimintai izin. Dia memutuskan menggugat koran tersebut ke pengadilan.

Ketika buku karikaturnya terbit atas kerja sama Institut Studi Arus Informasi, Garba Budaya, dan PT Media Lintas Inti Nusantara, ia sungguh senang hati, dan pada pertemuan kedua kami, ia bahkan tak bisa menyembunyikan bayangannya sendiri bahwa buku tersebut akan menembus cetakan kedua. “Akan ada penambahan karikatur, mungkin yang baru atau karikatur lama yang telah dikirim Ben dari Amerika namun tak jadi dimuat,” katanya.

Saya sedikit membuyarkan impiannya dengan mengatakan bahwa bukunya sangat tebal dan mahal, Rp 65 ribu, sehingga ia meralat ucapannya sendiri, “Ya, mungkin diterbitkan dalam buku yang baru.”
TAHUN 1965 seolah merupakan akhir baginya, ketika suratkabar Bintang Timur berhenti terbit menyusul tumbangnya Orde Lama, padahal di sanalah ia mempublikasikan karikaturnya secara rutin sejak 1957. Ia sempat ditahan selama lima hari. Tak hanya bayang-bayang kemiskinan yang menghantuinya, ia terutama kehilangan media untuk menyebarkan coretannya, tempat kemarahan dan lelucon berbaur dengannya.

Ia mulai menggambar ilustrasi untuk brosur-brosur tak penting, yang akan dibuang orang secepat mereka membacanya. Dengan cara itu ia menjalani hidupnya, menghidupi keluarga, dan menyekolahkan anak-anaknya. Tentu ada waktu-waktu ketika membuat ilustrasi brosur tak memadai untuk apa pun, tapi ia punya cara ampuh mengatasi kesulitan semacam ini. Istrinya, Saribar L. Tobing, penganut Kristen yang baik dan Sibarani tak hanya bisa membuat karikatur namun juga lukisan potret di atas kanvas. Itu ada hubungannya. Istrinya rajin pergi ke gereja dan Sibarani sering membuat lukisan potret untuk para jemaat teman-teman istrinya.

Kebanyakan ia melukis potret keluarga-keluarga mereka yang sudah mati, semacam menjual kenangan masa lalu, mengolahnya dari foto-foto usang. Menggabungkan foto kakek dan nenek yang terpisah seolah mereka duduk berdampingan begitu erat. Orang-orang pun suka dan membayarnya.

Namun, tak selamanya ada orang yang memintanya melukis potret, sementara kehidupan terus berjalan dan kebutuhan finansial terus merongrong. Maka ia akan melukis satu-satunya laki-laki yang memiliki hubungan dengan semua jemaat gereja itu: Yesus.

Ia tahu dengan pasti, orang-orang saleh tak akan mengabaikannya begitu melihat lukisan si laki-laki yang tampak menderita di atas kanvas tersebut. Ia lupa berapa banyak potret Yesus yang pernah dilukisnya.

Sesungguhnya Sibarani memulai karier sebagai pelukis potret belaka, pada umur delapan tahun ketika ia menggambar wajah guru-guru sekolahnya dengan modal pas foto mereka.

Dari segala potret yang pernah dilukisnya, potret Sisingamangaraja XII mungkin potret paling fantastis yang pernah ia buat. Ia menggambarnya bertahun-tahun lalu, sebab orang-orang Batak ingin punya pahlawan nasional mereka sendiri, sebagaimana orang Aceh punya Tjoet Njak Dhien dan Teuku Umar, orang Jawa punya Diponegoro, atau orang Maluku punya Kapiten Patimura. Orang Batak mengusulkan pada Presiden Soekarno agar mengesahkan Sisingamangaraja sebagai pahlawan nasional.

Seorang pahlawan harus ada potretnya, paling tidak, untuk bisa dipandang anak-anak sekolah dan dipajang di kantor-kantor pemerintah, serta membuatnya tampak tak mengada-ada.

Masalahnya, Sisingamangaraja telah meninggal jauh di awal abad XX, dan tak meninggalkan sehelai foto pun.

Sibarani mulai bekerja bagaikan artis di biro kriminal kantor polisi yang tengah mereka-reka wajah buronan tak dikenal. Ia beruntung masih bisa bertemu keturunan sang pahlawan, juga teman-temannya, seperti ayah penyair Sitor Situmorang, yang mengenal baik laki-laki yang akan dilukisnya itu. Sibarani tak hanya ingin mengenal Sisingamangaraja sebagai sosok laki-laki yang bisa dilukis di atas kanvas, tapi juga ingin mengenalnya bagaikan pernah hidup bersama dirinya.

Berdasarkan cerita-cerita keluarga dan para sahabat, ia mulai melukis potret Sisingamangaraja dengan cat minyak di atas kanvas. Ia memperlihatkan lukisan tersebut pada keluarga sang pahlawan, dan mereka berseru, “Ya, memang demikian wajahnya, tapi matanya sedikit berbeda.”

Kerja keras terakhirnya melukis bagian mata, mengubahnya di sana-sini sehingga cat menebal di sekelilingnya. Ya, inilah pahlawan yang tak pernah ia lihat, bahkan potretnya sekali pun, kini hidup kembali di atas kanvasnya. Akhirnya lukisan tersebut diantar ke Istana Merdeka. Soekarno mengesahkan Sisingamangaraja sebagai pahlawan nasional. Itu sebelum Orde Lama jatuh.

Ini cerita setelah Orde Baru muncul: lukisan Sisingamangaraja itu dipergunakan pemerintah untuk uang kertas rupiah. Ia bangga, tapi jengkel, sebab Bank Indonesia tak pernah menyebut namanya sebagai pelukis sang pahlawan, atau paling tidak minta izin mempergunakan lukisan tersebut. Kemarahannya tak terbendung, maka ia menuntut Bank Indonesia ke pengadilan. Laki-laki itu tengah mencoba menghadapi kekuasaan pemerintah menghabiskan semua urusan dengan pengadilan selama delapan tahun, dan seluruhnya sia-sia kecuali menghasilkan setumpuk berkas berita acara.

Kisah paling mengharukan, atau konyol, mengenai lukisan tersebut terjadi ketika ia mengetahui lukisan Sisingamangaraja tak ada lagi di Istana Merdeka, sudah berpindah ke tangan pribadi. Ia memburu lukisan itu ke mana-mana, hanya ingin mengetahui nasibnya, seperti ada pertalian batin di antara mereka. Suatu hari ia mendengar cerita bahwa lukisan itu berhantu, hidup jika malam datang. Ia penasaran dan berjuang keras menemukannya kembali.

Ketika menemukannya, semuanya telah berubah dan menyedihkan. Debu tebal menempel di permukaan kanvas, dengan pigura baru yang tak beres pemasangannya. Ada bekas jalur-jalur air hujan di jejak debu, membuat lukisan jadi berantakan. Hanya bagian mata yang bercat tebal itulah yang terlindung dari debu dan air hujan. Jika malam datang, mata tersebut memandang tajam dan benarlah, ia bagaikan hidup kembali. Sibarani tak tahu apakah ia harus menangis karena sedih, atau menertawakan kekonyolan orang yang tak mengerti lukisan.

LANTAS, kapan, dan bagaimanakah laki-laki ini kemudian menggambar karikatur? Ini cerita ketika ia berumur 25 tahun. Pada suatu hari ia dikunjungi seorang temannya, Anwar Isnudikarta, seorang aktivis Partai Sosialis Indonesia, yang mampir sejenak dalam kunjungan untuk menghadiri sidang parlemen Indonesia. Tamu itu mengajaknya ke pertemuan, dan semuanya terjadi di aula Hotel Des Indes. Sementara pidato-pidato berlangsung membosankan, ia membunuh waktu dengan mencorat-coret, menggambar sketsa sebagaimana sering ia lakukan di bangku sekolah.

Seorang wartawan, bernama Del Bassa Pulungan dari koran Merdeka, menantangnya membuat karikatur yang bagus. Ia pun membuat karikatur Mr. Mohammad Yamin, salah seorang politisi di parlemen, yang tengah berpidato, dan ketika pulang, ia membuat gambar orang yang sama tengah memukul Sultan Abdul Hamid, seorang tokoh federal dari Republik Indonesia Serikat, dengan gaya kocak. Itu tak hanya membuat karikaturnya muncul di halaman depan Merdeka, namun juga membuatnya semakin lebur ke dunia karikatur.

Ketika itu ia juga bekerja sebagai pegawai pertanian di Departemen Kemakmuran, sebab ia lulusan Sekolah Pertanian Bogor yang pada zaman Belanda disebut Middelbare Landbouw School. Ia digaji Rp 300 per bulan, dengan fasilitas antar jemput dan kemungkinan naik pangkat sebab ia veteran perang. Namun, dunia karikatur sungguh-sungguh menggodanya dan ia memutuskan jadi karikaturis lepas untuk banyak suratkabar seperti Kader, Gelanggang Masyarakat, dan Pewarta Djakarta. Penghasilannya jadi tak tentu, kadang lebih banyak dari uang yang biasa diperolehnya, kadang harus ke sana-ke mari berjalan kaki dengan perut keroncongan.

Itu seolah menebus keinginan lamanya untuk menjadi pelukis. Keinginan lama yang tak tergapai sebab ibunya yang bernama Martha Hasibuan, yang kawin dengan Jozua Sibarani dan melahirkannya pada tanggal 25 Agustus 1925, membesarkannya seorang diri sejak ayahnya meninggal kala ia berumur lima tahun. Ibu ini tak menginginkannya masuk sekolah formal seni lukis. Padahal ibunyalah yang telah mengalirkan darah seni itu, sebab selain seorang penginjil untuk para ibu di kota Pematangsiantar, ia juga pandai menyanyi, mendongeng, mahir menyulam, dan melukis motif ulos.

AWAL 1953, Sibarani menerbitkan tiga buku kartun untuk anak-anak, Si Kasmin Pergi ke Kota, Musik si Beber, dan Rumah si Bolang. Buku ini diterbitkan oleh sepasang suami istri sahabatnya, Alex Sutantio dan Lily, putri mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Ia membuat gambar-gambar binatang ala Walt Disney, dicetak berwarna di Belanda, dibayar putus seharga Rp 22 ribu. Cukup untuk membuatnya kaya mendadak.

Tak lama setelah itu, ia berkenalan dengan seorang Belanda pemilik toko buku dan sekaligus penerbitan yang kemudian ia biasa panggil sebagai “Tuan Gotfried” saja. Tuan Gotfried mengagumi ketiga bukunya, sebab laku dibeli anak-anak gedongan, dan menawarinya menerbitkan buku baru, dengan konsep yang berbeda agar tak tampak mencaplok ide orang. Buku kumpulan gambar lelucon berikutnya, yang ia kumpulkan dari majalah Aneka, terbit dengan judul Senyum, Kasih, Senyum.

Tapi sepanjang kekuasaan Orde Baru, betapa sulitnya menerbitkan kembali karikatur, yang ringan sekalipun. Terutama karena ia dicurigai sebagai satu dari orang-orang kiri. Dua puluh tahun berlalu sampai ia memperoleh kesempatan tampil bersama karikaturnya. Ketika itu G.M. Sudarta dari harian Kompas mengunjunginya bersama Arwah Setiawan dari Lembaga Humor Indonesia. Ia memperoleh undangan untuk ikut serta dalam pameran besar karikatur di Ancol, Jakarta, dan karikatur-karikatur pun segera disiapkan. Kesempatan itu lenyap saat Harmoko, yang waktu itu menteri penerangan, mengetahui keikutsertaannya. Harmoko, yang pernah jadi kartunis Merdeka, mengancam tak akan membuka pameran jika Sibarani ikut.

Itu pula yang mendorongnya membuat pameran tunggal. G.M. Sudarta menyumbang Rp 100 ribu. Tanpa acara pembukaan dan tanpa undangan. Sudarta menulis ulasannya di Kompas, sedangkan Mochtar Lubis, editor legendaris harian Indonesia Raya, datang memuji-mujinya sebagaimana dulu ia memuji buku Senyum, Kasih, Senyum, tak peduli betapa tak sukanya Sibarani terhadap garis politiknya.

Sibarani harus menunggu tumbangnya kekuasaan Orde Baru untuk bermimpi menerbitkan buku karikatur kembali. Ia menyelundupkan fotokopi karikatur-karikaturnya ke tangan mahasiswa. Pada 1998 sejumlah media Prancis menerbitkan karikatur-karikaturnya, seperti Le Monde Diplomatique, Humanite, dan La Lettrede. Karikaturnya kemudian berkeliaran di internet, terbang ke Amerika Serikat, dan dimuat di jurnal Indonesia terbitan Universitas Cornell.

Fenomenanya mungkin bisa disejajarkan dengan Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan terkuat Indonesia, yang berhasil muncul kembali ke dunia sastra Indonsia melalui novel-novel barunya. Sibarani berharap bisa berhasil pula saat kembali ke dunia karikatur Indonesia. Tapi paling tidak satu keinginannya sudah gagal. Semula ia ingin memberi judul kumpulan karikaturnya dengan Karikaturku, tapi si editor lebih suka menjualnya dengan judul Karikatur dan Politik.

Namun ia tetap orang yang dulu itu, penuh semangat dan teguh pada garisnya. Ia menunjukkan potret Osama bin Laden dan George Bush Jr. dalam gaya karikatural kepada saya beberapa bulan lalu, bagaikan memperlihatkan kesetiaan seorang karikaturis tua yang menantang roda zaman.

Prof. Dr.Bungaran Saragih April 30, 2008

Posted by impola in Bungaran Saragih.
Tags: , ,
2 comments

Mendorong Pertanian Jadi Lokomotif Kesejahteraan

Anak Siantar, guru besar IPB lulusan doktor bidang ekonomi dari North Carolina State University, AS (1980), ini terkenal dengan berbagai tulisan dan pandangannya tentang masalah pertanian. Maka ketika ia diangkat menjadi Menteri Pertanian (Kabinet Persatuan dan Kabinet Gotong-Royong) disambut banyak pihak sebagai pilihan yang tepat. Diharapkan ia bisa mendorong sektor pertanian menjadi lokomotif kesejahteraan rakyat, khususnya petani. Pertama-tama yang ia lakukan setelah menjabat Menteri Pertanian adalah merumuskan visi dan misi serta program dan kebijakan. Setelah itu masuk pada tahap implementasi. Dalam hal ini, ia melakukan tiga hal: Pertama “memadamkan kebakaran” yaitu persoalan yang mendesak kalau tidak akan berdampak jelek; Kedua meletakkan fondasi untuk bisa melakukan pekerjaan yang lain, Ketiga adalah belajar terus dan berbuat lebih baik.

Yang dimaksud dengan memadamkan kebakaran itu melakukan tindakan mengamankan distribusi dan penyediaan pangan. “Kita berusaha supaya harga tidak bergejolak. Kita melakukan itu dengan memanfaatkan mekanisme pasar dan mengatur supaya produksi, distribusi, dan konsumsi berjalan satu sama lain sehingga tidak ada gejolak harga yang mencemaskan,” kata alumni S1 IPB (1977) ini. Kemudian ia berupaya memadamkan kebakaran yang lain yaitu soal harga dasar gabah. Ia berupaya menciptakan mekanisme harga, memelihara harga dasar dan membuat harga pasar tidak jauh berbeda dengan harga pasar.

Saat terjadi pergantian Presiden dari Gus Dur ke Megawati Sukarnoputri, ia tetap dipertahankan pada jabatan memimpin Departemen Pertanian. Sehingga pantas ia bersyukur, karena ada kontinuitas dan konsistensi apa yang yang sudah ia pikirkan hingga sampai 2004. Ia ingin mewujudkan impiannya mendorong sektor pertanian menjadi lokomotif peningkatan kesejahteraan rakyat, khususnya petani. Menurutnya, selama ini sektor pertanian terutama agrobisnis kurang maju sebab tidak mendapat dukungan dari perbankan. Padahal, sektor pertanian terbukti mampu bertahan ketika Indonesia dalam kondisi krisis ekonomi.

Maka untuk memperkuat sektor pertanian, khususnya agrobisnis, saat berdialog dengan kalangan perbankan, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), dan UKM, di Semarang, Rabu (5/2/03), ia mengatakan perlu ada kredit usaha kecil menengah (UKM) khusus untuk agrobisnis. Tentu dengan bunga rendah untuk memajukan sektor agrobisnis. Ia yakin di Indonesia, agrobisnis bisa jadi bidang yang strategis, karena bisa menimbulkan pertumbuhan (ekonomi). Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, pertumbuhan Indonesia tahun 2002 sebesar 3,5 persen. Pertanian tumbuh 3,8 persen, industri pengolahan hasil pertanian tumbuh 3,6 persen. Ini menunjukkan bahwa agrobisnis nasional pertumbuhannya lebih besar daripada pertumbuhan nasional. Menurutnya, pemerintah sendiri selama ini kurang mendukung pengembangan sektor pertanian. Buktinya, alokasi dana untuk sektor pertanian dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2002 hanya sebesar Rp 2,2 trilyun. Dunia perbankan juga tidak mendukung karena dengan bunga perbankan 18 persen sangat memberatkan petani.

Kondisi ini sangat berbeda dengan Thailand. Pertanian di Thailand bisa maju karena perbankan sangat mendukung. Bunga perbankan untuk petani hanya 1 persen. Begitu pula di Cina 2 persen, di Australia 3 persen sampai 4 persen. Bila dilihat 15 tahun lalu, pertanian di Thailand tidak terkenal, sekarang mereka mampu menjadi produsen kopi robusta terbesar di dunia. Itu karena dukungan perbankan. Sementara di Indonesia bunganya 18 persen. “Bagaimana sektor agrobisnis mau maju,” katanya. Sektor pertanian di Indonesia, masih bersifat self financing. Kalaupun ada pengusaha yang bisa maju dengan usaha agrobisnisnya, bukan karena bantuan perbankan. Mereka bisa maju karena mereka punya modal sendiri. Oleh karena itu, tidak heran jika perkembangan sektor agrobisnis tidak bisa optimal.

Pria bergaya hidup sederhana ini menandaskan, dalam 5-6 tahun ke depan sektor pertanian bisa menjadi penggerak perekonomian. Untuk menggerakkan pertumbuhan di sektor pertanian, perlu bantuan perbankan dalam hal ini melalui mekanisme kredit UKM. Untuk itu, pihaknya telah mengusulkan kepada Menko Kesra Jusuf Kalla mengalokasikan UKM sebesar Rp 4 trilyun untuk sektor agrobisnis. Kredit itu bukan hanya untuk kepentingan bercocok tanam, tetapi juga usaha pertanian lainnya, seperti budidaya bunga, pengolahannya, transportasinya. “Kalau UKM agrobisnis bisa kita kembangkan, pasti luar biasa,” ujarnya optimis.

Akbar Tandjung April 28, 2008

Posted by impola in Akbar Tandjung.
Tags: , , , , , , , , , ,
add a comment

Politisi Ulung Dibayangi Jerat Hukum

Politisi ulung dan licin ini kini menjelma menjadi salah satu kandidat Presiden RI. Pria kelahiran Sibolga, Sumatra Utara, daerah nan jauh dari hiruk pikuk politik Jakarta, 14 Agustus 1945, menapaki jenjang karir politik dari bawah. Jabatan Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR RI yang kini digenggamnya memberinya peluang ikut bersaing memperebutkan jabatan nomor satu di negeri ini. Kendati masalah hukum membayangi gerak langkahnya.

Setelah melalui masa kecil dan menamatkan Sekolah Rakyat (SR) di Medan, ia pun pindah ke Jakarta. Di kota ini ia menamatkan pendidikan SMP Perguruan Cikini dan SMA Kanisius. Selanjutnya ia memilih kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Pergumulannya dengan dunia politik dimulai ketika masih kuliah. Tahun 1966 ia aktif dalam gerakan mahasiswa pada saat pengganyangan G 30 S /PKI melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Universitas Indonesia (KAMI-UI) dan Laskar Ampera Arief Rahman Hakim. Aktivitasnya itu merupakan modal kuat untuk ikut dalam bursa pemilihan ketua senat mahasiswa.

Tahun 1967-1968 terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Tahun 1998 1968 aktif dalam Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Indonesia. Selain itu, ia juga terpilih menjadi Ketua Mapram Universitas Indonesia.

Aktivitasnya tidak hanya dilakukan di dalam kampus. Ia pun terdaftar sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pada tahun 1969-1970 berhasil terpilih sebagai Ketua Umum HMI Cabang Jakarta dan tahun 1972-1974 Ketua Umum Pengurus Besar HMI. Organisasi mahasiswa ekstrakampus bukan hanya HMI. Untuk menjalin kerja sama dengan organisasi lainnya, pada tahun 1972 ia ikut mendirikan Forum Komunikasi Organisasi Mahasiswa Ekstra Universiter (GMNI, PMKRI, PMII, GMNI, HMI) yang kemudian dikenal dengan nama Kelompok Cipayung.

Kehidupan berorganisasi Akbar Tandjung tidak berhenti sampai di situ. Tahun 1973 ia pun ikut mendirikan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Baru pada tahun 1978-1981 menduduki posisi Ketua Umum DPP KNPI. Sebagai Ketua Umum KNPI, ia juga turut mendirikan Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI) tahun 1978 dan hingga tahun 1980 duduk sebagai Ketua DPP Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI).

Kiprahnya yang cemerlang di organisasi kepemudaan membuat langkahnya semakin lempang dalam menapaki jalur politik. Tak heran jika tahun 1983-1988 ia diberi kepercayaan menduduki posisi Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar. Seiring perubahan angin politik, Golkar yang begitu dominan pada masa Orde Baru terkena tuntutan perubahan. Golkar yang semula alergi disebut partai akhirnya mendeklarasikan diri sebagai partai menjadi Partai Golkar. Pada tahun 1998 sampai sekarang ia kukuh sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar.

Anggota DPR

Berbeda dengan kebanyakan politikus di Indonesia, Akbar tidak perlu menjadi anggota legislatif dari DPRD II kemudian naik ke DPRD I, setelah itu baru menjadi anggota DPR RI. Track record-nya sebagai aktivis kampus dan Ketua HMI menjadi modal besar baginya untuk langsung menjadi anggota DPR RI dari fraksi Golkar. Sejak tahun 1977 sampai 1988 ia menjadi anggota FKP DPR RI mewakili Propinsi Jawa Timur. Di lembaga perwakilan ini ia sempat mengecap posisi Wakil Sekretaris FKP DPR RI periode 1982-1983.

Tahun 1987-1992 ia dipercaya menduduki Sekretaris FKP-MPR RI sekaligus sebagai anggota Badan Pekerja MPR RI. Setelah Pemilu tahun 1992, kembali ia menjadi anggota DPR/MPR. Untuk periode 1992-1997, ia kembali menduduki jabatan Sekretaris FKP MPR RI.dan sekaligus Anggota Badan Pekerja MPR RI.

Tahun 1997-1998 ia terpilih menjadi Wakil Ketua FKP MPR RI. Tahun 1997-1999 sebagai Wakil Ketua Fraksi FKP MPR RI dan Wakil Ketua PAH II Badan Pekerja MPR RI.

Setelah mengalami gejolak politik tahun 1998, Golkar segera melakukan perubahan internal. Golkar menjadi partai politik yang menggaungkan paradigma baru. Akbar Tanjung pun terpilih sebagai ketua umum. Setelah Pemilu dipercepat menjadi tahun 1999, Akbar terpilih sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI sampai sekarang..

Dalam situasi global yang memungkinkan semakin terbukanya arus komunikasi dan semakin pentingnya kerja sama, maka DPR pun menjalin kerja sama dengan parlemen-parlemen negara sahabat. Sebagai Ketua DPR, Akbar pun dipercaya menjadi President of AIPO (Asean Inter Parliamentary Organization) periode 2002-2003 dan President of PUOICM (Parliamentary Union of OIC Members) periode 2003-2004.

Pembantu Presiden

Kemampuan organisasi dan manajerial semasa aktif di organisasi kemahasiswaan, kepemudaan, maupun di partai politik menarik perhatian Presiden untuk mengangkatnya sebagai menteri. Tercatat beberapa kali Akbar Tandjung memasuki lingkaran dalam pengambil keputusan.

Tahun1988-1993 untuk pertama kalinya ia menjadi menteri dengan jabatan Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga, pada Kabinet Pembangunan V. Selanjutnya periode 1993-1998 Suami dari Krisnina Maharani ini dipercaya menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat, Kabinet Pembangunan VI. Pada Kabinet Pembangunan VII yang tidak berumur panjang, Akbar mendapat kepercayaan menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Pemukiman. Selepas pergantian presiden dari HM Soeharto ke BJ Habibie, ia diangkat menjadi Menteri Sekretaris Negara, Kabinet Reformasi Pembangunan periode 1998-1999.

Pengalaman Internasional

Kesibukan berorganisasi bukanlah halangan untuk menimba ilmu dan memperkuat jaringan internasional. Jika ada kesempatan, mengapa hal itu harus disia-siakan? Maka, pada tahun 1972 ia Mengikuti Asia and Pacific Students Leaders Program-Departement of State USA, selama tiga bulan. Disusul kemudian tahun 1974 mengikuti pertemuan Majelis Pemuda se Dunia (World Assembly of Youth) di Nakhadka, Rusia. Tahun 1988 Memimpin Delegasi Indonesia dalam pertemuan Menteri-Menteri Olah Raga se Dunia di Moskow.

Pada tahun 1990 memimpin delegasi Indonesia dalam Dialog Malaysia Indonesia (Malindo), di Kuala Lumpur. Tahun 1995 mengikuti Seminar Federasi Real Estat Sedunia (FIABCI), di Paris, Perancis. Selanjutnya tahun 1996 mengikuti Kongres Habitat II di Nairobi, Afrika.

Tahun 1998 mengikuti KTT ASEAN di Hanoi. Satu tahun kemudian yaitu pada Oktober 1999 memimpin delegasi untuk mengikuti Sidang International Parliament Union (IPU) di Yordania.

Tahun 2000 Memimpin Delegasi pada Sidang Inter-parliamentary Union (IPU) di Jakarta. Pada tahun yang sama memimpin delegasi pada Sidang AIPO di Singapura.

Tahun 2001 memimpin delegasi pada Konferensi Ketua-Ketua Parlemen Se-Dunia, di NewYork. Masih di tahun yang sama memimpin delegasi pada Sidang AIPO di Thailand. Dan, tahun 2002 memimpin delegasi pada Sidang AIPO di Vietnam.

Penghargaan

Sumbangan dan dharma bakti Akbar Tandjung terhadap bangsa dan negara tidak sia-sia. Pemerintah Republik Indonesia menganugrahkan Penghargaan Bintang MahaputraAdi Pradana tahun 1992 dan Bintang Republik Indonesia tahun 1998.

Yang menarik adalah, kiprah Akbar Tanjung pun mendapat perhatian dari luar negeri. Ia memperoleh Penghargaan Kruis in de Orde van Oranje-Nassau dari Pemerintah Kerajaan Belanda pada tahun 1996.

Menuju RI-1

Kini Akbar Tandjung telah masuk dalam kompetisi bersama waraga negara terbaik negeri ini untuk menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Sebagai calon pemimpin dari 220 juta jiwa penduduk, perlu visi yang kuat agar dapat memajukan bangsa ini dari keterpurukan, terutama agar keluar dari krisis sejak 1997.

Sebagai kandidat presiden, Akbar memiliki pemandangan bahwa saat ini Indonesia masih berada pada masa transisi. Namun menurutnya, mtransisi tidak boleh dibiarkan berjalan terlalu lama. Pemilihan umum 2004 merupakan batas konstitusional yang diberikan oleh UUD 1945 untuk menciptakan kepemimpinan nasional yang baru, yang mampu mengatakan bahwa situasi yang tidak menentu ini harus segera diakhiri. Kewenangan yang ada pada pemilu 2004 diharapkan dapat melahirkan pimpinan nasional yang terampil, yang memiliki agenda yang jelas dan terukur untuk membawa Indonesia kepada situasi yang lebih baik.

Untuk dapat keluar dari krisis, Indonesia memerlukan seorang pemimpin yang mempunyai catatan pengalaman panjang; seorang pemimpin dengan gagasan dan pandangan yang jelas; yang memiliki keterampilan politis dan birokratis yang memadai; yang mampu melakukan koordinasi dan mengkomunikasikan kebijakan-kebijakannya tidak saja kepada elite nasional yang ada, tetapi juga kepada masyarakat banyak.

Akhirnya, Indonesia memerlukan seorang pemimpin yang dapat menciptakan kesepakatan-kesepakatan yang dinegosiasikan. Kemampuan untuk membangun konsensus di antara kekuatan-kekuatan sosial-ekonomi dan politik yang ada merupakan modal tambahan yang amat diperlukan untuk membawa Indonesia ke arah situasi yang lebih baik.

Akbar melihat terdapat beberapa persoalan mendesak yang perlu segera diselesaikan oleh pemerintahan yang akan terbentuk nantinya. Di antara persoalan itu adalah

  1. Pemulihan ekonomi, yang menurutnya saat ini prosesnya cenderung tidak terstruktur dan tidak sistematis karena dilaksanakan tanpa prioritas yang layak dan dapat dipercaya;
  2. Kesejahteraan dan kualitas manusia, yang secara kuantitas laju pemulihan ekonomi sepanjang lima tahun terakhir ini belum mampu menciptakan lapangan kerja dan penghidupan yang layak bagi banyak warga negara;
  3. Kedaulatan ekonomi dan kemandirian bangsa yang menurun drastis sejak krisis terjadi
  4. Lingkungan hidup dan pertanahan. Menurutnya, persoalan mendesak di bidang lingkungan hidup dan pertanahan adalah menurunnya kualitas sumberdaya alam dan lingkungan hidup serta buruknya penegakan hukum dan property rightsdi bidang pertanahan;
  5. Keamanan dan rasa aman, di mana terjadi kemerosotan sangat besar pada sektor ini;
  6. Penegakan hukum dan HAM. Masalah ini kemungkinan terjadi karena perangkat hukum yang ada tidak mampu menanggulangi pelanggaran hukum atau pelaku dan institusi yang ada saat ini tidak mampu menjalankan langkah penegakan hukum;
  7. Demokrasi, kemandirian daerah, dan integrasi bangsa. Selama lima tahun terakhir perjalanan demokrasi mengalami perkembangan yang menggembirakan, namun sayangnya sering pula muncul kekerasan, konflik sosial, teror, dan persaingan antarelite. Aspirasi dari bawah sering diabaikan atau dijadikan komoditi untuk hal-hal uang tidak produktif atau disintegrasi;
  8. Keharmonisan dan kerukunan sosial. Sama seperti masalah lainnya, keharmonisan dan kerukunan sosial pun mengalami kemerosotan.
  9. Perempuan dan kesetaraan jender. Perempuan Indonesia masih memiliki banyak masalah seperti rendahnya tingkat pendidikan, kesehatan, tingginya angka kematian ibu dan bayi, juga kekerasan terhadap perempuan, baik di lingkungan rumah tangga maupun di luar rumah tangga.

Strategi Membangun Indonesia Sejahtera

Peliknya masalah yang dihadapi membuat berbagai masalah itu tidak dapat diselesaikan sekaligus. Untuk itu diperlukan ketajaman untuk memilih hal-hal mana saja yang mendesak diselesaikan. Akbar Tandjung menyebut formula bagi strateginya itu adalah Tri Sukses Pembangunan yang terdiri dari Sukses Pembangunan Ekonomi, Sukses Pembangunan Hukum, dan Sukses Pembangunan Sosial-Kemasyarakatan.

Untuk menyukseskan program itu Akbar secara terbuka mengatakan membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Selain itu, dari figur pemimpin sendiri diperlukan kepemimpinan nasional yang terampil, mempunyai pandangan dan agenda kerja yang jelas, yang bersedia menghimpun seluruh kekuatan yang ada, baik pada tingkat masyarakat maupun negara, dan yang paham tantang kondisi objektif yang dihadapi bangsa dan negara.

Hanya orang yang mempunyai visi yang kuat, pengalaman yang teruji, dan yang dapat memenangkan hati rakyatlah yang mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, yakni Indonesia sejahtera. Kepemimpinan nasional yang demikian itu akan lahir dari suatu proses seleksi kepemimpinan yang objektif dan rasional, yakni melalui pemilihan umum yang demokratis, jujur dan adil.

Sebagai seorang yang telah memiliki pengalaman di bidang pemerintahan, legislatif, organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan, serta kini Ketua Umum DPP Partai Golkar, Akbar mengaku merasa terpanggil untuk menjalankan amanat yang mulia itu. Oleh karena itu, ia mengharapkan dukungan dan doa restu dari segenap Keluarga Besar Partai Golkar untuk ikut berkompetisi dalam Konvensi Partai Golkar, dengan harapan dapat terpilih sebagai Calon Presiden RI dari Partai Golkar.

Tak lupa, Akbar meneriakkan slogan andalannya “Mari ‘Maju Bersama, Membangun Indonesia Sejahtera’.

Abdul Haris Nasution April 28, 2008

Posted by impola in Abdul Haris Nasution.
Tags: , , , , , , ,
1 comment so far

Jujur Pada Sejarah dan Nurani

Nama : Abdul Haris Nasution
Pangkat: Jenderal Bintang Lima
Lahir : Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918
Meninggal: Jakarta, 6 September 2000
Agama : Islam
Istri: Ny Johanna SunartiPendidikan :
= HIS, Yogyakarta (1932)
= HIK, Yogyakarta (1935)
= AMS Bagian B, Jakarta (193
= Akademi Militer, Bandung (1942)
= Doktor HC dari Universitas Islam Sumatera Utara, Medan (Ilmu Ketatanegaraan, 1962)
- Universitas Padjadjaran, Bandung (Ilmu Politik, 1962)
= Universitas Andalas, Padang (Ilmu Negara 1962)
= Universitas Mindanao, Filipina (1971)Karir :
= Guru di Bengkulu (193
= Guru di Palembang (1939-1940)
= Pegawai Kotapraja Bandung (1943)
= Dan Divisi III TKR/TRI, Bandung (1945-1946)
= Dan Divisi I Siliwangi, Bandung (1946-194
= Wakil Panglima Besar/Kepala Staf Operasi MBAP, Yogyakarta (194
= Panglima Komando Jawa (1948-1949)
= KSAD (1949-1952)
= KSAD (1955-1962)
= Ketua Gabungan Kepala Staf (1955-1959)
= Menteri Keamanan Nasional/Menko Polkam (1959-1966)
= Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1962-1963)
= Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1965)
= Ketua MPRS (1966-1972)

Alamat Rumah : Jalan Teuku Umar 40, Jakarta Pusat Telp: 349080

Gaya hidup bersahaja dibawa Jenderal Besar A.H. Nasution sampai akhir hayatnya, 6 September 2000. Ia tak mewariskan kekayaan materi pada keluarganya, kecuali kekayaan pengalaman perjuangan dan idealisme. Rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, tetap tampak kusam, tak pernah direnovasi. Namun Tuhan memberkatinya umur panjang, 82 tahun.P ria Tapanuli ini lebih menjadi seorang jenderal idealis yang taat beribadat. Ia tak pernah tergiur terjun ke bisnis yang bisa memberinya kekayaan materi. Kalau ada jenderal yang mengalami kesulitan air bersih sehari-hari di rumahnya, Pak Nas orangnya. Tangan-tangan terselubung memutus aliran air PAM ke rumahnya, tak lama setelah Pak Nas pensiun dari militer. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, keluarga Pak Nas terpaksa membuat sumur di belakang rumah. Sumur itu masih ada sampai sekarang.Memang tragis. Pak Nas pernah bertahun-tahun dikucilkan dan dianggap sebagai musuh politik pemerintah Orba. Padahal Pak Nas sendiri menjadi tonggak lahirnya Orba. Ia sendiri hampir jadi korban pasukan pemberontak yang dipimpin Kolonel Latief. Pak Nas-lah yang memimpin sidang istimewa MPRS yang memberhentikan Bung Karno dari jabatan presiden, tahun 1967.

Pak Nas, di usia tuanya, dua kali meneteskan air mata. Pertama, ketika melepas jenazah tujuh Pahlawan Revolusi awal Oktober 1965. Kedua, ketika menerima pengurus pimpinan KNPI yang datang ke rumahnya berkenaan dengan penulisan buku, Bunga Rampai TNI, Antara Hujatan dan Harapan.

Apakah yang membuatnya meneteskan air mata? Sebagai penggagas Dwi Fungsi ABRI, Pak Nas ikut merasa bersalah, konsepnya dihujat karena peran ganda militer selama Orba yang sangat represif dan eksesif. Peran tentara menyimpang dari konsep dasar, lebih menjadi pembela penguasa ketimbang rakyat.

Pak Nas memang salah seorang penandatangan Petisi 50, musuh nomor wahid penguasa Orba. Namun sebagai penebus dosa, Presiden Soeharto, selain untuk dirinya sendiri, memberi gelar Jenderal Besar kepada Pak Nas menjelang akhir hayatnya. Meski pernah “dimusuhi” penguasa Orba, Pak Nas tidak menyangkal peran Pak Harto memimpin pasukan Wehrkreise melancarkan Serangan Umum ke Yogyakarta, 1 Maret 1949.

Pak Nas dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya melawan kolonialisme Belanda. Tentang berbagai gagasan dan konsep perang gerilyanya, Pak Nas menulis sebuah buku fenomenal, Strategy of Guerrilla Warfare.

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, jadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer dunia, West Point Amerika Serikat (AS). Dan, Pak Nas tak pernah mengelak sebagai konseptor Dwi Fungsi ABRI yang dikutuk di era reformasi. Soalnya, praktik Dwi Fungsi ABRI menyimpang jauh dari konsep dasar.

Jenderal Besar Nasution menghembuskan nafas terakhir di RS Gatot Subroto, pukul 07.30 WIB (9/9-2000), pada bulan yang sama ia masuk daftar PKI untuk dibunuh. Ia nyaris tewas bersama mendiang putrinya, Ade Irma, ketika pemberontakan PKI (G-30-S) meletus kembali tahun 1965. Tahun 1948, Pak Nas memimpin pasukan Siliwangi yang menumpas pemberontakan PKI di Madiun.

Usai tugas memimpin MPRS tahun 1972, jenderal besar yang pernah 13 tahun duduk di posisi kunci TNI ini, tersisih dari panggung kekuasaan. Ia lalu menyibukkan diri menulis memoar. Sampai pertengahan 1986, lima dari tujuh jilid memoar perjuangan Pak Nas telah beredar. Kelima memoarnya, Kenangan Masa Muda, Kenangan Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba, dan Masa Orla. Dua lagi memoarya, Masa Kebangkitan Orba dan Masa Purnawirawan, sedang dalam persiapan. Masih ada beberapa bukunya yang terbit sebelumnya, seperti Pokok-Pokok Gerilya, TNI (dua jilid), dan Sekitar Perang Kemerdekaan (11 jilid).

Ia dibesarkan dalam keluarga tani yang taat beribadat. Ayahnya anggota pergerakan Sarekat Islam di kampung halaman mereka di Kotanopan, Tapanuli Selatan. Pak Nas senang membaca cerita sejarah. Anak kedua dari tujuh bersaudara ini melahap buku-buku sejarah, dari Nabi Muhammad SAW sampai perang kemerdekaan Belanda dan Prancis.

Selepas AMS-B (SMA Paspal) 1938, Pak Nas sempat menjadi guru di Bengkulu dan Palembang. Tetapi kemudian ia tertarik masuk Akademi Militer, terhenti karena invasi Jepang, 1942. Sebagai taruna, ia menarik pelajaran berharga dari kekalahan Tentara Kerajaan Belanda yang cukup memalukan. Di situlah muncul keyakinannya bahwa tentara yang tidak mendapat dukungan rakyat pasti kalah.

Dalam Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948), ketika memimpin Divisi Siliwangi, Pak Nas menarik pelajaran kedua. Rakyat mendukung TNI. Dari sini lahir gagasannya tentang perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat. Mtode perang ini dengan leluasa dikembangkannya setelah Pak Nas menjadi Panglima Komando Jawa dalam masa Revolusi Kemerdekaan II (948-1949).

Pak Nas muda jatuh cinta pada Johana Sunarti, putri kedua R.P. Gondokusumo, aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak muda, Pak Nas gemar bermain tenis. Pasangan itu berkenalan dan jatuh cinta di lapangan tenis (Bandung) sebelum menjalin ikatan pernikahan. Pasangan ini dikaruniai dua putri (seorang terbunuh).

Pengagum Bung Karno di masa muda, setelah masuk di jajaran TNI, Pak Nas acapkali akur dan tidak akur dengan presiden pertama itu. Pak Nas menganggap Bung Karno campur tangan dan memihak ketika terjadi pergolakan di internal Angkatan Darat tahun 1952. Ia berada di balik ”Peristiwa 17 Oktober”, yang menuntut pembubaran DPRS dan pembentukan DPR baru. Bung Karno memberhentikannya sebagai KSAD.

Bung Karno akur lagi dengan Pak Nas, lantas mengangkatnya kembali sebagai KSAD tahun 1955. Ia diangkat setelah meletusnya pemberontakan PRRI/Permesta. Pak Nas dipercaya Bung Karno sebagai co-formatur pembentukan Kabinet Karya dan Kabinet Kerja. Keduanya tidak akur lagi usai pembebasan Irian Barat lantaran sikap politik Bung Karno yang memberi angin kepada PKI.

Namun, dalam situasi seperti itu Pak Nas tetap berusaha jujur kepada sejarah dan hati nuraninya. Bung Karno tetap diakuinya sebagai pemimpin besar. Suatu hari tahun 1960, Pak Nas menjawab pertanyaan seorang wartawan Amerika, ”Bung Karno sudah dalam penjara untuk kemerdekaan Indonesia, sebelum saya faham perjuangan kemerdekaan.”

Sumber: Berbagai sumber

Legenda Raja Sisingamangaraja XII April 27, 2008

Posted by impola in Raja Sisingamangaraja XII.
Tags: , , , , , , , , , , , , ,
4 comments

Pada tahun 1875 Patuan Bosar yang kemudian digelari dengan Raja Ompu Pulo Batu, ditabalkan menjadi Si Sisingamangaraja XII di Bakara. Si Singamangaraja XI (Ompu Sohahuaon), ayahanda Si Singamangaraja XII, nyatanya telah berfungsi sebagai Raja-Imam Batak dalam tenggang waktu yang lama sekali (50 tahun), yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1875, yakni setelah Tuanku Rau, penganjur aliran wahhabi itu membunuh Si Singamangaraja X (Ompu Tuan Nabolon) pada tahun 1825 di dekat Siborong-borong.

Menurut adat istiadat Batak, putra tertua dari suatu keluargalah yang diutamanakan melanjutkan pekerjaan dan fungsi orang-tuanya, khususnya di bidang adat dan pemerintahan. Karena itulah maka penduduk di Bakara dan sekitarnya ingin menabalkan Ompu Parlopuk menjadi Si Singamangaraja XII. Tetapi karena untuk dapat menjadi Si Singamangaraja, seseorang harus mempunyai ciri-ciri kharismatis pula. Persyaratan itu harus dapat dipenuhi oleh orang yang akan ditabalkan menjadi penerus pimpinan kerajaan dan keimanan Si Singamangaraja. Kepemimpinan Kharimatis harus ada pada setiap Si Singamangaraja, yang pada masa lampau, di yakini selalu syarat mutlak daripada kepemimpinan dalam kerajaan, oleh penduduk yang masih dipengaruhi oleh suasana magis dan mystis, Calon Si Singamaraja harus dapat mencabut PISO GAJA DOMPAK dari sarungnya, menurunkan hujan dan membuat tanda-tanda luar biasa (mukjizat).Persyaratan ini nyatanya tidak dapat dipenuhi oleh Ompu Parlopuk tetapi dapat dipenuhi oleh adiknya, yaitu Patuan Bosar. PISO GAJA DOMPAK itu ada sejak Si Singamangaraja I yaitu sekitar pertengahan abad XVI masehi. PISO GAJA DOMPAK adalah lambang kerajaan Si Singamangaraja. Keris itu bukanlah sembarang keris. Keris panjang ini adalah salah satu terpenting di kerajaan Si Singamangaraja yang di mulai dan berpusat di Bakara, ditepi Danau Toba, hanya sekitar 8 km dari Pulau Samosir yang indah itu.

Setelah melalui suatu proses yang berliku-liku, patuan Bosar pun, yang sebenarnya masih muda belia (sekitar 17 tahun) ditabalkan pada tahun 1875 menjadi Si Singamangaraja XII, karena ia mampu mencurahkan hujan pada musim kemarau yang parah waktu itu.

Selaku singa yang melampaui dan singa yang terlampaui “beliau mempunyai fungsi sebagai pengatur kerajaan manusia bermata hitam” di Sumatra. Ini ditambah lagi dengan fungsi kepemimpinannya dalam bidang agama, adat istiadat, hukum, ekonomi, pertanian pendidikan, kebudayaan dan militer. Jadi jelas bukan hanya sebagai PRIESTER KONING sebagaimana dikemukakan oleh pihak kolonial Belanda.

Si Singamangaraja bukanlah tokoh mitologis, melainkan tokoh historis yang pernah benar-benar hidup dan berjuang demi kepentingan rakyat ketika mengadakan perlawanan sengit terhadap Belanda.

Si Singamangaraja diakui sebagai raja dan imam besar (DATU BOLON) oleh semua suku Batak. Akan tetapi selain dia, rakyat masih mempunyai imam-imam di daerah- daerah dan kampung-kampung. Mereka inilah yang mempunyai hak untuk melakukan upacara pengorbanan dan pemujaan di tempat masing-masing, seperti pada saat sebelum dan sesudah anak lahir, waktu pemberian nama, pada pesta perkawinan dan upacara kematian.

Perang yang berlangsung selama 30 tahun di Sumatra Utara itu berakhir secara tragis, bukan bagi keluarga Si Singamangaraja XII dan rakyat Sumatra Utara, melainkan juga bagi seluruh rakyat dan bangsa Indonesia di seluruh Nusantara. Hal ini demikian mengingat bahwa perjuangan Raja Si Singamangaraja XII bukan saja demi kepentingan dirinya, atau kepentingan keluarganya sendiri, melainkan berupa perjuangan Nasional yang dilakukan bersama-sama dengan suku bangsa lain untuk melawan para penjajah Belanda yang datang merebut negeri dan kekayaan penduduk Indonesia.

Pada tanggal 17 Juni 1907, hari yang naas, Raja Si Singamangaraja XII telah gugur di tembak oleh anak buah Christoffel. Raja Si Singamangaraja XII tidak gugur sendirian. Bersama dengan beliau turut juga gugur dua orang putra kendungnya, para pejuang yang tidak kenal kata menyerah dalam kamusnya, yakni Patuan Nagari dan Patuan Anggi. Pun seorang putrinya yang berusia 17 tahun yang bernama Boru Lopian, seorang srikandi sejati yang selama ini dilupakan – turut juga tewas oleh berondongan peluru Belanda di suatu jurang yang ditumbuhi hutan rimba yang kelam, di Sindias di kaki gunung Sitopangan, kira-kira 9 – 10 km dari Pearaja, Sionomhudon, Tapanuli, Sumatra Utara. Seorang tokoh lain bernama Ompu Parlopuk, abang Si Singamangaraja XII, telah meninggal sebelumnya ketika mengadakan perang gerilya menghadapi Belanda. Permaisuri Si Singamangaraja XII, Boru Situmorang, menjelang tertembaknya Si Singamangaraja XII meninggal pula karena bergerilya di tengah hutan rimba Sumatra Utara. Bahkan cucunya yang sangat dicintainya, Pulo Batu, Putra Patuan Nagari telah menutup usia pada umur amat muda karena kelaparan ketika berkecamuknya perang gerilya dan dalam keadaan dikejar-kejar oleh Belanda. Ucapan terakhir Si Singamangaraja XII ketika gugur di jurang Sindas, Sitopangan, di Sumatra Utara ialah “AHU SI SINGAMANGARAJA”.

Dikutip dari :

  1. AHU SI SINGAMANGARAJA Oleh : Prof. DR.W. Bonar Sidjabat
  2. MAKNA WIBAWA JABATAN DALAM GEREJA BATAK Oleh : Dr. Andar M. Lumbantobing