Prof. Dr.Bungaran Saragih April 30, 2008
Posted by impola in Bungaran Saragih.Tags: Bungaran Saragih, Saragih, Siantar
trackback
Mendorong Pertanian Jadi Lokomotif Kesejahteraan
Anak Siantar, guru besar IPB lulusan doktor bidang ekonomi dari North Carolina State University, AS (1980), ini terkenal dengan berbagai tulisan dan pandangannya tentang masalah pertanian. Maka ketika ia diangkat menjadi Menteri Pertanian (Kabinet Persatuan dan Kabinet Gotong-Royong) disambut banyak pihak sebagai pilihan yang tepat. Diharapkan ia bisa mendorong sektor pertanian menjadi lokomotif kesejahteraan rakyat, khususnya petani. Pertama-tama yang ia lakukan setelah menjabat Menteri Pertanian adalah merumuskan visi dan misi serta program dan kebijakan. Setelah itu masuk pada tahap implementasi. Dalam hal ini, ia melakukan tiga hal: Pertama “memadamkan kebakaran” yaitu persoalan yang mendesak kalau tidak akan berdampak jelek; Kedua meletakkan fondasi untuk bisa melakukan pekerjaan yang lain, Ketiga adalah belajar terus dan berbuat lebih baik.
Yang dimaksud dengan memadamkan kebakaran itu melakukan tindakan mengamankan distribusi dan penyediaan pangan. “Kita berusaha supaya harga tidak bergejolak. Kita melakukan itu dengan memanfaatkan mekanisme pasar dan mengatur supaya produksi, distribusi, dan konsumsi berjalan satu sama lain sehingga tidak ada gejolak harga yang mencemaskan,” kata alumni S1 IPB (1977) ini. Kemudian ia berupaya memadamkan kebakaran yang lain yaitu soal harga dasar gabah. Ia berupaya menciptakan mekanisme harga, memelihara harga dasar dan membuat harga pasar tidak jauh berbeda dengan harga pasar.
Saat terjadi pergantian Presiden dari Gus Dur ke Megawati Sukarnoputri, ia tetap dipertahankan pada jabatan memimpin Departemen Pertanian. Sehingga pantas ia bersyukur, karena ada kontinuitas dan konsistensi apa yang yang sudah ia pikirkan hingga sampai 2004. Ia ingin mewujudkan impiannya mendorong sektor pertanian menjadi lokomotif peningkatan kesejahteraan rakyat, khususnya petani. Menurutnya, selama ini sektor pertanian terutama agrobisnis kurang maju sebab tidak mendapat dukungan dari perbankan. Padahal, sektor pertanian terbukti mampu bertahan ketika Indonesia dalam kondisi krisis ekonomi.
Maka untuk memperkuat sektor pertanian, khususnya agrobisnis, saat berdialog dengan kalangan perbankan, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), dan UKM, di Semarang, Rabu (5/2/03), ia mengatakan perlu ada kredit usaha kecil menengah (UKM) khusus untuk agrobisnis. Tentu dengan bunga rendah untuk memajukan sektor agrobisnis. Ia yakin di Indonesia, agrobisnis bisa jadi bidang yang strategis, karena bisa menimbulkan pertumbuhan (ekonomi). Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, pertumbuhan Indonesia tahun 2002 sebesar 3,5 persen. Pertanian tumbuh 3,8 persen, industri pengolahan hasil pertanian tumbuh 3,6 persen. Ini menunjukkan bahwa agrobisnis nasional pertumbuhannya lebih besar daripada pertumbuhan nasional. Menurutnya, pemerintah sendiri selama ini kurang mendukung pengembangan sektor pertanian. Buktinya, alokasi dana untuk sektor pertanian dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2002 hanya sebesar Rp 2,2 trilyun. Dunia perbankan juga tidak mendukung karena dengan bunga perbankan 18 persen sangat memberatkan petani.
Kondisi ini sangat berbeda dengan Thailand. Pertanian di Thailand bisa maju karena perbankan sangat mendukung. Bunga perbankan untuk petani hanya 1 persen. Begitu pula di Cina 2 persen, di Australia 3 persen sampai 4 persen. Bila dilihat 15 tahun lalu, pertanian di Thailand tidak terkenal, sekarang mereka mampu menjadi produsen kopi robusta terbesar di dunia. Itu karena dukungan perbankan. Sementara di Indonesia bunganya 18 persen. “Bagaimana sektor agrobisnis mau maju,” katanya. Sektor pertanian di Indonesia, masih bersifat self financing. Kalaupun ada pengusaha yang bisa maju dengan usaha agrobisnisnya, bukan karena bantuan perbankan. Mereka bisa maju karena mereka punya modal sendiri. Oleh karena itu, tidak heran jika perkembangan sektor agrobisnis tidak bisa optimal.
Pria bergaya hidup sederhana ini menandaskan, dalam 5-6 tahun ke depan sektor pertanian bisa menjadi penggerak perekonomian. Untuk menggerakkan pertumbuhan di sektor pertanian, perlu bantuan perbankan dalam hal ini melalui mekanisme kredit UKM. Untuk itu, pihaknya telah mengusulkan kepada Menko Kesra Jusuf Kalla mengalokasikan UKM sebesar Rp 4 trilyun untuk sektor agrobisnis. Kredit itu bukan hanya untuk kepentingan bercocok tanam, tetapi juga usaha pertanian lainnya, seperti budidaya bunga, pengolahannya, transportasinya. “Kalau UKM agrobisnis bisa kita kembangkan, pasti luar biasa,” ujarnya optimis.
Komentar
Sorry comments are closed for this entry



ya saya sangat setuju jika para petani itu diberikan kredit yg rendah bunga klo sampai 18% itu sama saja bukan membantu,klo di kasih 5% itu baru membantu para petani.Coba kalian kunjungi para petani kita di daerah sangat memprihatinkan karena harga hasil panen mereka tdk mendukung dengan biaya yg di keluarkan alias( lebih besar pasak dari pada tiang) coba anda pikirkan,anda sendiri yg berada di posisi para petani kita apa yg anda rasakan.tapi pemerintah memandang petani kita di pandang sebelah Mata.padahal petanilah yg menggerakkan rada ekonomi kita tapi petani di pandang dengan sebelah mata oleh pemerintah.
* Dan saya kurang setuju kebijakan yg diambil pemerintah untuk membantu masyarakat miskin dengan memberikan BLT itu tdk mendidik karena uang yg di dapat per keluarga cuman Rp300.000,-itu cukup beli apa see…??.tapi klo pemerintah mempergunakan uang itu untuk membuka suatu tempat pelatihan yg dapat di miliki setiap orang untuk melatih kreatifitas itu lebih mahal di banding dgn uang Rp 300.000.-yg disebut BLT.Coba kita pikirkan banyak di negara kita ini yg putus sekolah karena kejamnya dunia( tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah). uang BLT di pergunakan untuk membuka suatu tempat pelatihan pasti indonesia akan berkurang kemiskinan karena sudah mempunyai kreatifitas yg dapat di andalkan untuk mengikuti perkembangan teknologi.
Apa yg tdk bisa di kerjakan di jaman teknologi sekarang ini asalkan setiap orang memiliki kreatifitas yg telah terdidik??.
Tapi saya berharap bukan memberikan BLT untuk membantu masyarakat miskin tapi bangunlah tempat2 pelatihan pelatihan yg bermanfaat bagi setiap orang.kita tau di negara kita ini banyakorang pintar kenapa tdk di rekrut untuk memajukan negara kita ini .kenapa kita masih di kuasai negara2 tetangga yang mengelola hasil bumi kita ini??.karena pemerintah tdk melihat orang2 kita yg pintar2.
ok terima kasih saya dapat menulis disini.
emang gue pikirin…………….